Sepuluh tahun yang lalu… Reformasi lahir dari sebuah kenestapaan beruntun yang diciptakan oleh kesadaran perbudakan semata… Sepuluh tahun sudah reformasi berjalan, namun seperti baju baru saja. Menggunakan parfum yang banyak agar tidak tercium bau anyir darah mahasiswa yang sudah jatuh, serta anyepnya air mata yang jatuh karena teman teman mahasiswa baik yang terkena gas air mata, ataupun yang menangisi temannya yang tertembak.
Kerusuhan tanggal 13, 14 dan 15 Mei tahun 1998 masih terngiang hingga kini. Saat keadaan mulai mengutuk perut untuk memakan sesuap nasi, saat nyawa terombang ambing lantaran tidak adanya asap di dapur.
Sepuluh tahun yang penuh dengan lalu lalang suka dan duka, menjadikan semua terlihat biasa saja tanpa berbekas, tanpa kesedihan yang mendalam. Dan kini, setelah sepuluh tahun berlalu. Meski semua berusaha semaksimal mungkin adanya untuk mencukupi keadaan masing masing, setidaknya untuk sepotong roti dan segelas kopi pagi hari. Itu pun terasa semakin berat.
Tidak ada yang bisa dipindai dari keadaan dulu dan sekarang. Semua mengalir jernih pada alurnya masing masing dan apa adanya. Karena tidaklah mungkin semangat saya yang sudah tua renta ini bisa mengalahkan ribuan jiwa serakah akan sebuah keinginan menjadi kaya. Meski ada seribu orang seperti saya yang memberikan darah untuk sebuah ketertiban dan damai sejahtra itu tak mungkin rasanya. Entah karena lingkungan saya berpendapat demikian, entah karena memang saya yang terlalu kecewa terhadap “orang atas” entah karena saya sudah lapar. Lapar melihat keadaan ketika jaman masih indah. Ketika nasi goreng masih bisa di bayar dengan 1 lembar uang merah bergambar Perahu. Ketika makan di warteg masih bisa di maharkan dengan uang lembaran hijau bergambar kijang.
Saya sudah mencoba. Mempercayai sebuah lambang kepemerintahan dengan sepenuh hati. Mengerjakan bagian saya, memberikan bagian saya, menutup mulut dan menolak apa yang bukan menjadi bagian saya. Tapi itu juga tidak memberikan arti buat saya, bahkan untuk orang orang yang mengigil di pinggiran jalan saat malam menemani tidur mereka.
Saya selalu belajar. Mempercayai bahwa Dia sanggup membawa negara saya menjadi lebih baik. Membuat sebuah patokan patokan yang unik agar orang kaya dan orang miskin memiliki beban yang sama untuk hidup di negara Saya. Tapi itu juga berangsur angsur lenyap ketika pemerintahan yang dipimpin seseorang berganti seiring berjalannya 5 tahun dari 63 tahun sudah kita merdeka.
Semua terus berlanjut… Semua terus bermimpi… Dan semua terus berangan angan … Seiring Distorsi yang diciptakan lingkungan dari atas sampai kebawah yang linear. SEMUA INGIN KAYA. Dan mungkin saya. Anak Saya atau cucu saya. Hanya harus bekerja dan berpikir pada bagian saya tanpa harus mengkoordinasi orang orang untuk tidak menaikkan harga BBM. Dan mungkin saya. Anak Saya atau cucu saya. Hanya harus tetap bermimpi melihat keadaan dimana semua tercukupi. Tidak adanya kepanikan tentang “APA YANG HARUS KITA MAKAN ESOK…”
Saya masih ingin mengais mimpi. Menepas batas tanpa jeruji alasan yang bodoh, bahwa orang tak punya tak bisa bermimpi. Saya kaya dalam Mimpi, dan itu cukup. Cukup membuat saya tetap tenang. Cukup membuat saya semangat untuk tetap berdoa, tertidur pada malam hari walau kadang takut menyambut mimpi buruk esok pagi yang harus saya hadapi.
NB : Tulisan diatas saya ambil dari milist. Saya tergugah dan saya copas disini
tertarik ? Silahkan Copas juga atau tulis tulisan serupa dan memberi link pada page ini.
sama bangsa ini dah pesimis aku
wah..pengennya bangsa kita ini semakin jaya kedepannya, cuma ngeliat dewasa ini, kejadian dan msalah yang ada..
jadi lemespun aku
mimpi yang indah, mungkinkah? mungkin saja, tapi mungkin 500 tahun lagi
ah gak ada abis2nya kalo ngomongin bangsa ini. maksudnya ngomongin yang jelek2nya
btw bang namaku kok gak ada di blog roll yah? he3x protes bang… pis!
@Ogi
Just Do it your part… Sisanya doain aja…
@Jimmy
hehhee… Saya akui.. *sedih
@ghozan
oke… entar gue add
Sebenarnya ingin optimis, tapi sptnya memang negara kita ini tidak ada kemajuan..
[...] Notes : Saya dapat email lagi dari orang yang sama. Menapaki postingan yang kemarin disini tentang 10 tahun reformasi [...]
Welcome To My Country!
Sudah terlalu banyak warga negara yang mengeluh, kalo kita juga mengeluh trus apa yang kita dapatkan dari keluhan kita itu!
Sekarang gini aja, gak usah lagi kita mengeluh, mari kita kerjakan saja, apa yang kita bisa, minimal kita bisa hidup dengan lebih baik! jika suatu saat hal kecil yang kita lakukan sekarang ternyata bisa membawa negara ini ke arah yang lebih baik yah kita sukuri, kalo tidak juga gpp, yang penting kita berusaha, membuat kehidupan kita lebih baik! maka negara ini pun mungkin bisa lebih baik!
karena mengeluh tidak ada habisnya!
tiada yg mustahil klo qt sma2 mw brusha.mulai dr dri qt sndri.byk org pandai brkta – kta tpi kbnykkn omong ksong.buktikan Indonesia bs lbih dr yg qt pkirkn.